Wednesday, 30 March 2011

Apakah Mereka Telah Zuhud?

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan dimuka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al Kahfi [18]:45-46)

Pertanyaan itu begitu memukaunya. Hamba itu terdiam sebentar tak mampu untuk menjawabnya. Jarang dalam suasana kehidupan seperti saat sekarang ini, pertanyaan itu muncul. Terlebih dari seseorang yang dikasihi dan telah bersama mengarungi kehidupan rumah tangga lebih dari sewindu. Ia terlihat gundah dengan lingkungan tempat ia berpijak diantara teman-temannya dimana ‘Kebendaan’ dan ‘Pencapaian-pencapaian pribadi itu’ selalu menjadi topik pembicaraan yang tak habis-habisnya. Untuk itu ia bertanya,

“Bagaimana bersikap zuhud dalam lingkungan seperti ini? Disatu sisi kita harus selalu membina silaturrahim, sementara Rasulullah Saw mengajurkan kita untuk bersikap zuhud? Apakah kita harus menutup diri dan menghindar dari pergaulan yang dapat menjerumuskan kita pada kecintaan pada dunia ini? Bukankah sisi ‘modern’ dari sebuah kehidupan itu akan selalu bertumbukan dengan sisi ‘keimanan’ yang ada di hati kita? Bagaimana kita harus bersikap?

‘Zuhud tidaklah diartikan dengan kemiskinan, kekurangan dan menutup diri dari segala pergaulan yang menjerumuskan. Zuhud lebih dimaknai sebagai ‘kesederhanaan sebagai pilihan hidup’. Jika memang pilihan itu terpampang dihadapan kita. Ketika Allah Azza wa Jalla memberi kesempatan kepada seorang hamba untuk hidup dalam kelapangan, justru simbol-simbol kemewahan itu tidak pernah dipertontonkannya kepada siapapun. Ia memilih untuk tetap hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya.

Hamba itu teringat akan sebuah kisah dari seorang khalifah yang agung dimasa Islam, Umar Ibn Khatab ra. Seorang sahabat Nabi Saw yang zuhud. Di awal pemerintahannya, dalam suatu riwayat disampaikan bahwa ia pernah berdoa, “Ya Allah, jadikan dunia ini dalam genggamanku, tapi tidak dihatiku.” Allah Azza wa Jalla mengabulkan doanya. Di masa pemerintahannya 2/3 dunia ini berada dalam genggamannya. Kekuasaan Romawi dan Persia sebagai dua poros kekuatan utama dunia saat itu dapat dikuasainya dengan sangat baik.

Ketika Jerusalem telah dikuasai oleh pasukan Islam, Khalifah Umar ra datang sendiri yang hanya diikuti oleh seorang pengawalnya. Ketika itu ia disambut oleh panglima pasukan Islam, Abu Ubbaidah bin Jarrah ra dan pembesar-pembesar Yerusalem saat itu. Khalifah Umar hanya memakai pakaian yang sangat sederhana sehingga ia diperingatkan oleh Abu Ubaidah untuk mengganti pakaiannya. Khalifah Umar marah dan berkata, “Wahai Abu Ubaidah, dahulu kita adalah manusia yang hina. Allah telah memuliakan kita dengan Islam. Apakah pantas bagi kita untuk menyombongkan diri agar manusia lain memandang kita sebagai orang yang mulia?

Khalifah Umar benar, kemuliaan seseorang bukan terletak pada bagusnya pakaian, mahalnya kendaraan yang ia pergunakan dan simbol-simbol kemewahan lainnya yang ia miliki. Tapi lebih kepada pancaran wajah yang meneduhkan yang dapat membawa kedamaian bagi siapapun yang berhubungan dengannya dan akhlak mulia yang selalu menghiasi perangainya dalam kehidupan sehari-hari. Orang lain mendapat manfaat yang banyak dari keberadaannya.

Seorang sahabat Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan, jika aku mengerjakannya maka aku akan dicintai oleh Allah Azza wa Jalla dan dicintai manusia lain.” Nabi menjawab, “Janganlah kamu rakus terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu dan janganlah kamu rakus terhadap hak orang lain, pasti orang lain mencintaimu.” (HR Ibnu Majah)

Allah Azza wa Jalla memberi perumpamaan dalam ayat-ayat-Nya yang penuh hikmah yang tersebar di beberapa surah Al Quran bahwa kehidupan dunia ini bagai air hujan. Salah satunya adalah pada QS Al Kahfi diatas. Ini memberi hikmah kepada kita bahwa air hujan yang turun dengan cukup (tidak berlebihan dan tidak pula sedikit) akan membawa keberkahan bagi apapun yang menimpanya. Ia akan menjadikan tanah menjadi subur, hingga tanaman dapat menghasilkan dengan baik. Hal ini akan memuaskan manusia yang secara pasti menggantungkan sumber hidupnya pada tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan. Ketika musim hujan telah berlalu berganti dengan musim kering, tumbuh-tumbuhan itu akan mengering dan tak dapat diselamatkan lagi. Ia akan punah tak berbekas dan dilupakan oleh manusia yang telah memuji sebelumnya.

Kalau kita coba merenung dan mendalami hikmah pada ayat diatas, Allah Azza wa Jalla memberi pengajaran kepada kita bahwa ‘air hujan’ bagaikan ‘rezeki’ yang ia berikan kepada kita. Ketika Allah memberikan rezeki yang lebih pada seseorang, maka ia akan tampak begitu memukau bagi orang-orang yang melihatnya. Bagai tanaman yang tersiram air hujan, akan terlihat menghijau dan segar. Tapi ketika Allah mempersempit rezekinya, maka orang-orang akan cenderung untuk melupakannya. Bahkan yang sering terjadi adalah orang-orang akan cenderung mencelanya seolah kesempitan rezeki itu adalah karena ‘kesalahannya’ dalam mengusahakannya.

Harta dan anak-anak merupakan bagian dari rezeki Allah yang tidak bergantung pada amal shaleh seseorang dalam memperolehnya. Begitu banyak hamba-hamba Allah yang shaleh tapi memperoleh kesempitan rezeki sehingga harus selalu tertatih-tatih dalam menjalani hidupnya. Dalam sisi yang lain, begitu banyak orang-orang kafir yang rezekinya melimpah ruah hingga keluar pernyataannya yang amat sombong, “Bukan aku yang bekerja, tapi uang yang berkerja untukku!” Allah mencela orang-orang yang berpendirian seperti ini dalam QS Al Fajr [89] 15-20.

Rezeki adalah hak Allah dalam menentukan. Kepada siapa Allah akan berikan dan seberapa banyak yang akan Allah berikan. Bukan karena keta'atan dan bukan pula karena kekufuran. Adalah kurang pantas bagi kita untuk membahas kenapa rezeki si A lebih daripada si B. Kenapa si A memperolehnya sedang si B tidak? Kenapa kita harus selalu mempersoalkannya? Bukankah dengan mempertanyakannya, berarti kita mempertanyakan takdir (baca: Qadha & Qadar) yang Allah telah tetapkan puluhan ribu tahun sebelum kehadiran manusia di muka bumi ini? Hal ini adalah sebuah ke-naif-an buat kita untuk mengetahui rahasia-Nya.

Yang seharusnya terjadi, menurut ayat diatas adalah bagaimana cara kita mengisi kehidupan ini dengan amal shaleh yang banyak.  Sadar akan peran kita di masyarakat adalah awal bagi kita untuk melakukan amal shaleh. Seorang pekerja akan bekerja dengan sebaik-baiknya dengan penuh kejujuran. Bukankah ini sebuah amal shaleh? Seorang pengusaha akan selalu memikirkan nasib pekerjanya agar dapat terpenuhi segala kebutuhan mereka dan menginfakkan sebahagian kelebihan keuntungan yang ia peroleh untuk membantu beasiswa anak-anak yatim dan jaminan kesehatan orang-orang miskin. Bukankah ini sebuah amal shaleh? Demikian juga seorang suami yang selalu ingin membahagiakan pasangan hidupnya dan anak-anaknya dengan mencukupi segala kebutuhan hidup mereka dan selalu bersikap lemah lembut serta penuh perhatian. Bukankah ini adalah amal shaleh? Seorang istri yang mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa harus bersikap kasar kepada mereka. Bukankah ini juga amal shaleh?

Zuhud tidaklah bertumbukan dengan kehidupan modern yang lebih menonjolkan 'kebendaan'. Justru sikap zuhud yang ditunjukkan oleh seorang hamba akan menjadi nilai diri yang amat menonjol yang dapat membawa kedamaian dalam pergaulan. Bukankah sikap hidup menonjolkan simbol-simbol kekayaan menyebabkan persaingan yang tiada habis-habisnya karena ingin terlihat lebih diantara yang lain? Sikap zuhud- lah yang dapat meredam semua itu.

Rasulullah Saw bersabda yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra, “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian dan celakalah hamba perut! Jika telah terpenuhi, ia bahagia dan apabila tidak terpenuhi maka ia akan merasa sedih.” (HR Bukhari)


Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa,

M. Fachri

Tuesday, 15 March 2011

Kepekaan Hati

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.” (QS Al Hajj [22]:46)

Seorang teman menyampaikan bagaimana sulitnya ia  sebagai orangtua untuk menanamkan  nilai-nilai yang baik kepada anak-anaknya. Ia sadar anak-anaknya banyak terpengaruh oleh keadaan lingkungannya yang ia katakan sebagai 'serba instan'. Ditambah lagi dengan 'paradigma internet' yang menjadikan mereka bergaul dalam lingkungan yang luas tanpa mengenal pijakan dan waktu tapi amat terbatas interaksi sosial-nya. Hal yang menyebabkan sang anak tidak peka terhadap keadaan disekelilingnya. 

Hamba itu teringat akan sebuah buku yang pernah dibacanya yang berjudul, ‘The Shallows’ karya Nicholas Carr. Buku ini bercerita bagaimana ‘internet’ sebagai medium yang serba bisa itu membawa perubahan pada pergeseran prilaku berpikir, membaca dan mengingat. Banjir informasi (information ovearloaded) dan kemudahan serta kecepatan dalam memperolehnya membentuk pola dan proses berpikir baru. Lautan informasi memberikan peluang untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan wawasan. Namun disisi yang lain, hal tersebut justru mengikis kapasitas untuk berkonsentrasi dan melakukan kontemplasi (dalam istilah agama kita kenal dengan muhasabah). Kesabaran untuk membaca jauh berkurang. Justru yang banyak dilakukan sekarang adalah ‘membaca cepat’ dan ‘sepintas’ yang disebut dengan ‘scan-read’.

Dalam kesehari-harian, anak-anak kita dipaksa untuk mengerjakan tugas-tugasnya tanpa harus ‘mencari’, ‘membaca’ dan ‘menemukan’ informasi yang dibutuhkannya pada sebuah atau beberapa buku. Ia akan lebih memilih aktivias ‘googling’ (search di google). Memilih artikel yang ia anggap layak dan meng ‘copy’ dan ‘paste’ ke dalam tugas yang sedang dikerjakannya.Tanpa kita sadari hal ini mengikis kapasitasnya untuk berkonsentrasi dan menafikan semangatnya untuk membaca.

Saat ini membaca bukan sebuah aktivitas yang penuh dengan kenikmatan lagi.  Dahulu kita lebih sering untuk menyempatkan diri membaca dimana saja kita berada, apakah itu diruang keluarga, di ruang tidur, di taman atau café dengan ditemani oleh secangkir teh atau kopi. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk hanyut dengan buku-buku yang kita baca. Tapi kini kita lebih senang untuk membuka laptop/netbook ataupun tablet computer dimanapun kita berada dan lebih mementingkan keberadaan ‘Wifi’ daripada rasa ‘kopi tubruk’ yang ada di café tersebut. Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Starbuck café , jumlah pelanggan mereka yang datang dan membaca buku jauh menurun jika dibandingkan dengan jumlah mereka yang memegang laptop/netbook/tablet dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Social Network menggantikan cara kita untuk berinteraksi satu sama lain. Kita ataupun anak-anak kita berlomba-lomba untuk memiliki sebanyak-banyaknya ‘friend’ dan ‘follower’. Status dan komentar berseliweran tanpa melihat tatanan moral dan sopan santun dalam menyampaikan dan menanggapi pendapat. Kita telah kehilangan sesuatu yang amat mendasar dalam hubungan antar manusia yaitu ‘bertemu’ dan ‘saling menyapa’

Dalam ayat QS Al Hajj di atas Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita untuk selalu ‘berjalan’ di muka bumi ini dan melihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Hal yang akan mengasah kepekaan kita dengan hati yang kita miliki. Jangan biarkan hati kita ‘buta’ yang menyebabkan segala apa yang ada di diri  sirna tak berbekas. Kita harus selalu berinteraksi untuk saling memahami.

Internet sebagaimana harta adalah ‘media’ (baca: alat) untuk melakukan amal shaleh sebanyak-banyaknya bagi kehidupan akhirat. Harta bukanlah jaminan untk memperoleh kebahagian. Berapa banyak manusia yang kaya raya tapi tidak memperoleh kebahagiaan dan hidup dalam keterasingan. Yang pasti adalah harta adalah sebuah alat, yang jika dipergunakan sesuai dengan petunjuk dan ridha Allah akan memperoleh keberkahan yang menyebabkan kebahagiaan yang terus menerus sampai ajal menjelang serta jaminan surga dengan kenikmatan yang tiada terperi (QS11:3). Demikian juga dengan internet, jika digunakan dengan niat yang baik dan benar akan ‘mendukung’ cara kita berinteraksi selama ini bukan ‘menggantikan’ peran interaksi itu sendiri. Dibutuhkan sebuah kearifan untuk menggunakannya demi agar nilai-nilai kepekaan itu tidak hilang dari diri.

Bagaimana untuk terus mengasah kepekaan?

Yang penting kita ingat adalah perintah Iqra’ pada QS Al Alaq yang merupakan ayat-ayat Al Quran yang pertama kali turun. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada kita untuk ‘tidak sekedar membaca’ tapi juga ‘memahami’ akan apa yang yang ada disekeliling kita.  Allah mengenalkan diri-Nya Yang Maha Agung sebagai Rabb semesta alam dalam ayat pertama QS Al Alaq tersebut yang berbunyi ‘Iqra bismirabbikalladzi khalaq’ bukan tanpa hikmah.

Kita mengenal bahwa dalam bahasa arab, Rabb merujuk pada sifat Allah Yang Maha Berproses (baca: mendidik). Allah Azza wa Jalla mengajarkan kepada kita bahwa banyak dari ciptaan-Nya dibentuk melalui sebuah proses dan tidak diciptakan secara ‘instan’ walaupun Allah Maha Berkuasa atas hal ini. Sebagai contoh adalah dalam penciptaan anak cucu adam (baca: manusia). Allah Azza wa Jalla membentuknya dalam sebuah proses dari segumpal darah menjadi segumpal daging menjadi tulang belulang dst hingga menjadi manusia sempurna yang dilahirkan. Semua proses ini membutuhkan waktu selama lebih dari sembilan bulan (baca QS 23:14). Demikian juga dalam hal penciptaan alam semesta dan bumi yang menjadi bagiannya. Allah Azza wa Jalla menciptakannya dalam  enam masa (waktu) yang hanya Allah yang tahu berapa lama hal itu terjadi. (baca QS 7:54). Kedua hal ini memberi hikmah bahwa untuk mencapai sesuatu kesempurnaan diperlukan sebuah proses untuk mencapainya. Tidak ada yang instan dalam hidup ini.

Hal ini juga yang dapat menjelaskan kenapa seorang hamba Allah yang mengaku beriman harus menjalani setiap ujian-Nya di muka bumi ini. Semua itu agar kedudukan (derajat) dari hamba-hamba-Nya itu selalu meningkat. Dari predikat mukninin (beriman) menjadi muttaqin (taqwa) untuk kemudian menjadi shalihin (shalih) yang tinggi kedudukannya disisi-Nya.

Sesuatu yang amat menyedihkan adalah kenyataan bahwa kita terkadang tidak memiliki waktu untuk membaca ayat-ayat-Nya di setiap malam padahal kita mengaku beriman dan berikrar bahwa kita akan selalu menjadikan kitab-Nya yang mulia, Al Quran, sebagai pedoman hidup. Bagaimanakah Al Quran dapat menjadi pedoman hidup, kalau membaca dan mengerti akan terjemahannya saja pun kita tidak pernah lakukan dengan rutin setiap malam? Apatah lagi mengajarkannya kepada anak-anak?

Jika kita ingin memiliki ‘kepekaan’ dalam diri kita dan anak-anak kita, hendaklah kita memulainya dari saat ini. Jadikanlah rumah kita bagai madrasah malam hari dimana anggota keluarganya sebelum tidur selalu membaca ayat-ayat-Nya dan juga terjemahannya sebagai sebuah modal untuk memiliki ‘kepekaan hati’ yang merupakan kekayaan (jiwa). Ingatlah akan sebuah pesan yang amat berharga dari Rasulullah Saw dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abbas ra. Nabi bersabda, “Bacalah dan ajarkan kepada istri dan anak-anak kalian surah Al Waqi’ah karena sesungguhnya surah itu  adalah surah kekayaan.” (HR Ibnu Asakir)

“Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Apakah kamu tiada memahaminya?” (QS Al Anbiyaa’ [21]:10)

Wednesday, 2 March 2011

Kekuasaan Yang Menjadi Penyesalan

"Ya Allah Yang Memiliki Kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yg Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yg Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yg Engkau kehendaki dan engkau hinakan siapa yg Engkau kehendaki. Ditangan Engkau lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS Ali Imran [3]:26)


Terkadang kita tidak menyadari bahwa kekuasaan yang kita miliki baik sebagai pemimpin umat ataupun pemimpin rakyat ataupun pemimpin rumah tangga ataupun pemimpin perusahaan ataupun pemimpin siswa-siswa yang kita didik adalah sebuah amanah yang dapat menyelamatkan ataupun membinasakan kita kelak. Setiap pemimpin selalu identik dengan kekuasaan yang dilingkupinya. Dan kekuasaan inilah yang akan diminta pertanggungjawabannya kelak oleh Allah. Apakah kekuasaan itu telah kita jalankan dengan adil dan bijaksana ataukah secara dzalim dan penuh dengan kebathilan. Orang-orang yang pernah kita pimpin akan datang kepada kita kelak dihadapan Allah Azza wa Jalla. Bisa jadi mereka akan menjadi saksi yang meringankan kita karena kita telah membawa kebaikan kepada mereka. Bisa jadi pula mereka menuntut dihadapan Allah akan keadilan yang tidak mereka dapatkan bagai jauh panggang dari api selama dalam kepemimpinan kita.


Kekuasaan bukanlah sebuah hadiah atau hasil jerih payah yang telah kita raih. Kekuasaan adalah sebuah amanah yang bersumber dari Allah Azza wa Jalla yang juga merupakan ujian hidup. Ia dapat menjadi sumber kebaikan ataupun sumber keburukan. Berapa banyak pemimpin yang awalnya begitu disanjung dan dipuji, tapi pada akhirnya menuai kehinaaan. Ia dikucilkan bagai sang pesakitan yang tak terlihat sedikitpun kebaikan yang pernah diperbuatnya. Sebaliknya pemimpin yang adil itu bagai setangkai bunga yang harum mewangi mewarnai setiap relung jiwa orang-orang yang dipimpinnya. Namanya selalu hidup dan selalu menjadi buah bibir yang tak habis untuk dibicarakan.


Rasulullah Saw bersabda, "Kalian semua adalah pemimpin, yang akan diminta pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Demikian juga istri yang merupakan pemimpin dirumah suaminya dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam mengelola dan  memelihara harta tuannya dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR Bukhari dan Muslim)


Hendaklah kita selalu menjadikan kekuasaan yang kita miliki sebagai sebuah sumber amal shaleh dalam melangkah. Seorang suami akan selalu membawa kebaikan bagi istri dan anak-anak yang dipimpinnya. Demikian juga dengan istri akan selalu membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi suami dan anak-anak serta  pelayan-pelayan rumah tangga yang berkerja untuk mereka. Demikian juga dengan seorang pekerja yang memiliki bawahan, ia akan menjadi sumber inspirasi dan kebaikan bagi mereka. Sikapnya yang selalu adil dan bijaksana akan selalu membawa kenangan manis bagi siapapun yang dipimpinnya. Demikian juga seorang guru yang selalu dapat menjadi inspirasi dan sumber ilmu bagi murid-murid yang mendapat pengajarannya. Hidup ini akan terasa indah jika diisi oleh amal shaleh yang bergema keindahannya melintasi relung jiwa orang-orang yang dapat merasakannya. Sang pemimpin akan terus menyebarkan kebaikan sedang orang-orang yang dipimpinnya akan terus merasakan manfaat yang tiada habis-habisnya. Bagai sebuah ikatan bathin yang erat dan menyatu hingga membuat keduanya selalu ingin tersenyum saat merasakannya.


Satu hal yang selalu menjadi renungan bagi kita. Janganlah kekuasaan itu menjadi sumber penyesalan. Dihadapan sahabat-sahabatnya Rasulullah Saw pernah menyampaikan yang bersumber pada Abu Hurairah ra. Nabi bersabda, "Sesungguhnya kalian berambisi untuk meraih suatu kekuasaan, tapi pada hari kiamat kelak kekuasaan itu menjadi sumber penyesalan." (HR Bukhari)