Friday, 21 October 2011

Sebuah Bentuk Jihad

“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (QS Al Baqarah [2]:207)

Malam itu, di masjid tempat hamba itu selalu melaksanakan kewajiban nya, seorang Bapak tampak kembali terlihat. Ia bersimpuh di salah satu sudut yang selalu menjadi tempatnya bermunajat. Ia sedang khusyu’ berdoa diantara waktu Maghrib dan Isya. Sudah seminggu ini sang Bapak tidak terlihat. Hamba itu selalu bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang terjadi dengannya. Dari kejauhan, tampak raut wajah sang Bapak yang penuh dengan guratan-guratan kematangan dari berbagai bermacam episode kehidupan yang naik turun bagai gelombang samudera tak bertepi.

Hamba itu tak ingin mengganggunya dalam kekhusyukan doanya. Ketika shalat Isya berjamaah akan didirikan, hamba itu mendekatinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia balas dengan memeluk hamba itu dengan sangat erat bagai dua orang sahabat  yang telah lama tidak bertemu. Ia larut dalam tangis yang terdengar tidak biasa. Hamba itu mempersilahkannya untuk berdiri tepat di belakang imam seperti biasanya tapi kali ini ia menolaknya.

“Saya tak kuat berdiri”  Katanya sembari mengusap air matanya yang masih saja terlihat membasahi wajahnya. Ia memilih tempat di ujung sebelah kiri saf agar leluasa shalat sembari duduk. Hamba itu membiarkannya.

Seusai shalat, didepan hamba itu dan beberapa Jemaah yang bertaut usia jauh dengannya, ia bercerita akan kisahnya. Beberapa hari yang lalu ia baru saja menjalani operasi . Baru kemarin ia kembali dari rumah sakit. Ia diharuskan beristirahat untuk memulihkan kondisinya. Terlebih dengan usianya yang tidak lagi muda membuatnya harus banyak menahan diri termasuk mendatangi rumah Allah pada setiap malamnya.

Ia bercerita, setiap kali mendengar suara adzan dari masjid yang selalu menjadi rumah keduanya itu, hatinya benar-benar bergetar. Tak kuasa ia menahan airmatanya. Ia rindu untuk mendatanginya. Ia ingat sebuah kisah sahabat Rasulullah saw yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Seorang sahabat Nabi yang tidak sempurna fisiknya.

Ummi Maktum, begitu namanya sering disebut adalah seorang yang buta sejak lahir. Walau demikian suara merdunya menjadi sesuatu yang amat bermanfaat. Ia bergantian peran dengan Bilal bin Rabbah sebagai pelantun adzan (baca Muadzzin) yang seringkali di daulat oleh Rasulullah saw. Namanya begitu harum sebagai salah seorang sahabat utama Rasulullah. Ummi Maktum jualah yang menjadi sebab turunnya surah ‘Abasa. Surah ke-80 dalam al Quran yang mengisahkan betapa mulianya seseorang yang selalu haus untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Dalam sebuah pertemuan, Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah saw yang sedang menjelaskan keutamaan untuk shalat berjemaah di masjid. “Ya Rasulullah, apakah saya diwajibkan kendati saya tidak dapat melihat?” Nabi menjawab, “Apakah engkau mendengar seruan adzan dari tempat dimana engkau tinggal?” Ummi Maktum menjawab, “Benar ya Rasulullah, saya mendengarnya.” Nabi kemudian menjawabnya, “Kalau begitu engkau harus pergi ke masjid walaupun dalam keadaan merangkak.” (HR Muslim)

Tangisan sang Bapak kembali terdengar diakhir ia menyampaikan kisah ini. Ia sadar dirinya masih jauh lebih beruntung daripada keadaan sahabat-sahabat Nabi pada masa silam. Mereka harus berjuang mendatangi rumah Allah dalam kegelapan malam, dalam kedinginan yang mengigit disaat musim dingin atau panas terik yang membakar di waktu siang. Sang Bapak memiliki kendaraan yang siap mengantarkannya kemanapun ia pergi. Malam itu, walaupun istrinya melarangnya, ia tetap pergi. Sang istri akhirnya luluh dan mengantarkannya. Perasaannya amat bahagia bagai ia bertemu dengan Rabb-nya.

                                                   ooOOOoo

Terkadang kita lupa bahwa memakmurkan rumah Allah itu adalah sebagian dari amal shaleh yang bernilai jihad. Pengertian jihad amatlah luas. Bukanlah hanya sekedar angkat senjata atau sanggup menahan kemelaratan karena di dzalimi demi tegaknya syiar agama Allah.

Jihad yang bermakna dasar ‘bersungguh-sungguh’ itu, memerlukan pemahaman yang lebih membumi dalam konteks kekinian. Orangtua yang berusaha mendidik anaknya dengan lemah lembut untuk selalu taat pada aturan agama dan membimbing mereka untuk melewati masa-masa sulit dan senang adalah juga jihad. Demikian juga dengan membantu kaum miskin dan papa melalui bantuan pendidikan dan pangan yang terorganisir adalah juga bentuk jihad. Bukankah Allah Tabaraka wa Ta’ala lebih menyukai  seorang muslim yang kuat daripada muslim yang lemah? Adalah tugas kita semua untuk menegakkan syiar agama Allah ini agar menjadi ‘rahmatan lil alamin’ sesuai apa yang Allah kehendaki.

Tapi amatlah disayangkan, sebagai seorang yang mengaku muslim laki-laki, sebahagian dari kita hanya pergi ke masjid sekali dalam seminggu yaitu pada hari Jumat saja. Selain hari itu ia tidak pernah menjejakkan kakinya untuk memasuki rumah Allah. Apakah ini yang dapat dinamakan memakmurkan rumah Allah?

Selain dari ‘bersungguh-sungguh’ sesuatu dapat dikatakan bernilai jihad jika dilakukan dengan ‘konsisten’ yang berarti terus-menerus. Jangankan ‘konsisten’ dan ‘bersungguh-sungguh’, terkadang hal-hal kecil saja tidak dapat kita lakukan dengan baik. Misalnya menghadiri majelis ta’lim (pengajian) yang dilaksanakan di lingkungan keluarga atau tempat tinggal kita. Seberapa sering kita dapat menghadirinya? Demikian juga halnya jika kita diminta untuk terlibat dalam sebuah kegiatan keagamaan seperti kegiatan Qurban di lingkungan tempat tinggal kita? Apakah kita bersedia dengan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran kita?

Dalam dunia yang semakin hedonis dan tumpulnya hati nurani seperti saat ini, kita sering lupa. Kita hanya hidup diantara dua waktu shalat. Diantara waktu-waktu shalat itu kita diberikan jatah kehidupan untuk menentukan arah dan langkah yang ingin kita tempuh dan berjihad di jalan Allah sesuai dengan kemampuan. Kelak kita akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Yang Maha Hidup, Allah Azza wa Jalla. Kita mulai suatu hari dengan bersujud kepada-Nya di waktu Shubuh untuk kemudian kita pergunakan jatah hidup kita dengan melakukan segala bentuk usaha kehidupan yang bermanfaat hingga waktu Dhuhur menjelang yang mengharuskan kita untuk kembali bersujud kepada-Nya. Kemudian kembali kita menghabiskan jatah hidup kita sampai waktu Ashar menghampiri. Demikian seterusnya…hingga akhirnya pada suatu saat yang telah ditentukan, nafas kita akan terhenti….karena jatah hidup kita telah habis dan kita harus kembali kepada-Nya mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lalui.

Hidup itu begitu sederhana dalam pandangan Allah, tapi tidak dalam pandangan kita manusia yang enggan untuk menyadari hakikat hidup yang sesungguhnya adalah ‘hanya diberi jatah diantara dua sholat itu’.  Hal ini Allah Azza wa Jalla nyatakan di dalam kitab-Nya yang mulia sebagai sebuah penjelasan,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS Adz Dzaariyaat [51]:56)

Kita ingin selalu meraih segalanya dan lebih mementingkan apa yang ingin kita raih hingga lupa untuk bersujud kepada-Nya. Kalaupun kita ingat untuk bersujud, hal itu sering kali kita lakukan diakhir waktu shalat dan dalam keadaan yang terburu-buru seolah tidak menyadari bahwa sesuatu itu dapat tiba-tiba berakhir sebelum kita meraih apapun dalam hidup ini.

Ketika kekuasaan dan Harta telah dalam genggaman, kita merasa menjadi seorang manusia kuat yang dengan keduanya kita bisa melakukan apa saja, memperoleh apa saja yang jadi keinginan kita, memberi perintah kesana-kemari dan berusaha untuk menentukan jalan hidup anak-anak kita. Menganggap mereka tidak tahu apa-apa dalam menentukan masa depan mereka dan menganggap bahwa hidup yang penuh kemapanan itulah yang membahagiakan. Sungguh sebuah ironi kehidupan yang membutakan. Harta dan kekuasaan itu cenderung untuk mengikis habis empati dan hati nurani seseorang hingga ia tidak pernah puas akan apa telah ia raih dan selalu ingin memperoleh pujian akan apa yang telah dilakukannya.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad lah di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu menyadarinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan memasukkan kamu ke dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan ada lagi karunia yang lain yang amat kamu sukai yaitu pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat waktunya. Dan sampaikanlah berita gembira itni kepada orang-orang yang beriman.” (QS As Shaff [61]:10-13) 

Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri

Thursday, 6 October 2011

Bekal Taqwa

“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi. Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan-Nya yang memiliki sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu.” (QS Faathir [35]:1)

Seorang teman menyampaikan bahwa tahun ini ia telah diberi nikmat oleh Allah Azza wa Jalla untuk mengerjakan ibadah haji dan siap untuk berangkat dalam beberapa hari ke depan. Ia bertanya kepada hamba itu, bekal apa yang harus ia persiapkan untuk memperoleh haji yang ‘mabrur’.

Hamba itu balik bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu persiapkan untuk berjumpa dengan Tuhanmu?”

Ia terdiam sebentar. Raut wajahnya berubah menjadi muram. Sembari menghela nafas, ia berkata, “Aku bukan ingin mati disana, aku hanya ingin meraih haji yang mabrur.”

Perjalanan haji adalah sebuah perjalanan yang hanya dapat dilakukan oleh yang “mampu”. Bukan hanya dari sisi materi tapi juga secara ruhani. Begitu banyak ragam niat seseorang untuk berhaji. Ada yang untuk mengejar status dan ada juga yang sekedar “mencuci dosa” yang telah menumpuk terlalu banyak. Ada juga yang ingin memuaskan hawa nafsunya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu dan pantas untuk menyandang sebuah gelar “Haji” atau “Hajjah”.  Dan yang lebih mengharukan, tanpa disadari atau tidak, bagi sebahagian orang, ibadah haji tak lebih dari sebuah perjalanan wisata dengan membayangkan tempat-tempat indah nan syahdu untuk dikunjungi serta tempat menghabiskan uang untuk berbelanja.

Perjalanan haji adalah sebuah perjalanan yang sarat dengan simbol dan makna. Simbol-simbol yang terukir dalam pakaian ihram yang hanya dua lembar sebagai pertanda bahwa ketika kita menghadap Allah Azza wa Jalla, tak ada sesuatupun yang kita bawa kecuali dua lembar kain yang akan melingkari tubuh kita. Demikian juga ritual melontar jumrah melambangkan perlawanan kita terhadap syaitan yang terus berusaha menggoda. Pertarungan antara keburukan dan kebaikan itu akan selalu ada selama ruh masih bersemayam dalam tubuh kita.

Puncak dari ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah. Allah telah memilih hari ke-9 dalam suatu bulan yang menjadi penutup tahun Hijriyah. Angka 9 adalah simbol pencapaian tertinggi dari seorang hamba dalam hidupnya. Puncak dari segala yang telah ia lakukan. Ketika ia berada di puncak, sudah seharusnya ia melakukan muhasabah (kontemplasi) untuk kembali mensucikan dirinya. Dimulai dari matahari tergelincir di waktu Dhuhur sampai matahari terbenam di waktu Maghrib, seluruh hamba yang berniat haji diharuskan hadir untuk berdiam diri dan melakukan suatu pendekatan dengan Rabb Yang Maha Agung secara sendiri-sendiri. Dan bukan berjamaah. Sampai-sampai Rasulullah Saw sendiri men jama’-qashar shalat Dhuhur dan Ashar nya ketika Wukuf agar leluasa mendekatkan dirinya pada Rabb Yang Maha Hidup. Tidak ada undangan yang lebih agung ketika Allah memulikan hamba-hamba-Nya di Arafah. Dan hal ini terangkai dalam sebuah pesan Rasulullah Saw, "Haji itu adalah Arafah dan tiada yang membatasi seorang hamba dengan Rabb-nya di hari itu, mereka berada dalam pelukan-Nya" (HR Bukhari).

Arafah adalah replika dari sebuah padang mahsyar kelak tempat dimana semua manusia berkumpul untuk menunggu keputusan Allah Azza wa Jalla. Menimbang dengan ‘mizan’ (baca: timbangan yang adil) kebaikan dan keburukan demi untuk mendapat balasan. Di Arafah semua hamba-Nya yang sedang ber wukuf  sama kedudukannya, sama-sama merasakan kebesaran-Nya. Tempat jutaan hamba-hamba-Nya melantunkan pujian dan bermunajat dengan linangan air mata yang membasahi setiap wajah-wajah mereka demi memperoleh ampunan dan ridha-Nya.

Bagi kita yang tidak hadir pada hari itu di Arafah untuk menunaikan ibadah haji, kita disunahkan berpuasa untuk merasakan begitu hebat peristiwa yang hanya sekali saja terjadi sepanjang tahun itu dan kitapun layak mendapat pengampunan Allah Azza wa Jalla atas segala dosa yang telah kita lakukan sepanjang tahun yang lalu.

Semua ritual ibadah haji akan menanamkan kepada kita begitu kecilnya kedudukan kita dihadapan Allah Azza wa Jalla. Begitu besarnya kekuasaan Allah atas segala sesuatu di alam semesta ini. Tidak ada yang layak disembah dan terus menerus diagungkan selain kalimat-kalimat-Nya yang berpadu pada dzikir, tahlil dan tahmid yang tiada henti.

Satu hal yang hamba itu rasakan dalam perjalanan haji nya beberapa tahun yang lalu. Sebuah peristiwa yang tidak akan pernah terlupakan dari benak yang lemah ini. Peristiwa itu terjadi setelah selesai mengerjakan tawaf ifadah dan sa’i shafa-marwah pada tanggal 10 Zulhijjah di siang hari yang sangat terik. Setelah ibadah ritual itu, tenggorokan ini terasa amat kering dan tercekat. Hamba itu mencari air zam zam untuk diminum. Biasanya air itu ada di dalam wadah berwarna coklat muda yang tersebar disekeliling Masjidil Haram.  Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Semua wadah itu kosong adanya. Bisa jadi begitu banyak Jemaah yang membutuhkannya sehingga tidak ada yang tersisa sedikitpun.

Hamba itu terus mencari dan melangkahkan kakinya menuju sumur zam-zam yang dikala itu masih berbentuk ruang bawah tanah. Sesuatu yang aneh terjadi. Jalan menuju ruang sumur zam-zam itu tidak terlihat sama sekali karena kerumunan Jemaah yang sedang melakukan thawaf ifadah begitu memuncak. Tak mungkin rasanya hal itu bisa dicapai.

Dalam keadaan seperti itu, keputusasaan itu menyeruak memenuhi jiwa yang labil ini. Istighfar terus dilantunkan, tasbih dan tahmid terus mengiringi langkah yang mulai terasa berat untuk ditapaki. Akhirnya hamba itu itu duduk bersandar pada sebuah tiang penopang Masjidil Haram sembari berdoa pada Rabb-nya memohon pertolongan akan keadaan jiwanya tak sanggup lagi untuk berdiri. Kepalanya terasa berat dan berputar-putar.

Disaat kepasrahan itu melanda, hamba itu teringat akan kisah seorang ibu yang tegar. Istri dari nabi Ibrahim as yang bernama Hajar. Seorang diri ia berusaha untuk mencari air bagi anaknya Ismail yang terus menerus menangis kehausan. Saat dimana kesulitan itu memuncak dan segala usaha telah dilakukan tanpa ada hasil,  disaat itu pula pertolongan Allah datang dengan air zam zam yang sampai saat ini masih dapat kita nikmati.

Hamba itu terus mengucap, “Ya Rabb, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.”  Sembari memandang ke arah Ka’bah yang terlihat begitu tegar dan indah.  

Tanpa hamba itu sadari, seorang pria berwajah arab dengan memakai pakaian ihram yang masih terlihat bersih dan rapi mendekat ke arahnya. Sang Bapak membawa sebuah cangkir putih yang berisi air zam zam. Tepat di depannya, sang Bapak berhenti dan dengan tersenyum ia memberi cangkir di tangan kanannya kepada hamba itu sembari berkata “Barakallah” dan menepuk pundaknya.

Hamba itu tersenyum lebar kepadanya dan mengucap “Syukran “ berkali-kali. Sang Bapak cepat berlalu.

Hamba itu mengucap kalimat syukur yang tiada putus-putusnya sembari bersujud. Memang benar….malaikat tidak akan pernah menampakkan sayap-sayapnya.…

Hamba itu berkata kepada temannya, “Bawalah bekal taqwa karena hal itu sangat dibutuhkan.” Sesuai dengan pesan Al Quran:


“…Berbekalah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah taqwa dan betaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS Al Baqarah [2]:197)


Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri