“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia dalam keadaan mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-maing golongan, baik golongan ini maupun itu, Kami beri bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebahagian dari mereka atas sebahagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS Al Israa’ [17]:18-21)
Seorang Bapak itu dengan sangat cekatan mengayuh kursi roda tempatnya bertumpu dengan kedua tangannya. Di depan mulut sebuah gang ia berhenti. Di situ telah tersedia sebuah meja kaca sebagai modalnya berjualan pulsa handphone dan kartu perdana berbagai operator dengan segala program promosinya. Ia tersenyum tatkala melihat pelanggan pertamanya datang dan melayaninya dengan baik untuk kemudian disusul dengan pelanggan kedua dan ketiga yang terus datang silih berganti. Tak ada rasa minder dan malu yang tampak pada wajah sang Bapak walau ia cacat. Ia tak memiliki kaki kiri dan hanya bertumpu pada kaki kanannya. Bertahun-tahun ia telah berganti-ganti usaha mulai dari pedagang asongan hingga akhirnya membuka kios pulsa sederhana di mulut gang itu yang berada di bilangan Jakarta Selatan. Ketika tidak ada pelanggan yang datang, ia memegang tasbih yang selalu melingkar di tumpuan kursi rodanya. Mulutnya bergerak perlahan memuji Rabb-Nya Yang Maha Agung yang telah memberinya nikmat hidup sehingga ia dapat berusaha seperti saat ini. Seiring waktu berjalan, waktu shalat tiba, ia menitipkan kios kecilnya itu kepada beberapa tukang ojek yang berpangkalan di dekat situ. Ia mengayuh kursi rodanya ke masjid yang berada tidak jauh dari situ.
Ia amat menikmati hidupnya dan merasa nyaman dengan semua itu. Sebuah kehidupan yang kecil dan sarat dengan kebaikan. Ia sadar, Allah tidak memberinya keempurnaan dalam hal bentuk tubuh, tapi Allah masih memberinya kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya. Dan ia telah memilihnya dengan baik….sangat baik sesuai dengan Ayat pada QS Al Isra diatas. Ia tetap berusaha melakukan amal shaleh walau memiliki keterbatasan.
Hamba itu terus memperhatikan setiap kali menyusuri jalan yang ada di depan mulut gang itu. Sesekali waktu hamba itu berhenti sekedar membeli pulsa. Sang Bapak tersenyum kepadanya dengan ramah….dan senyuman yang penuh keramahan itu pula yang telah membuat hamba itu menjadi pelanggan setianya.
Dalam kehidupan yang kita jalani sehari-hari, kita lebih nyaman membeli pulsa dengan cara bertransaksi di ATM yang kita bayar sesuai dengan nilai nominalnya. Sedang di pedagang seperti sang Bapak kita mungkin harus mengeluarkan uang ekstra beberapa ribu Rupiah untuk fee penjualan kepadanya. Sudah seharusnya orang-orang seperti sang Bapak dihargai. Bukankah hal itu adalah amal shaleh juga yang seharusnya kita lakukan? Membantu hamba-hamba-Nya yang lemah?
Allah Azza wa Jalla memerintahkan di dalam Al Quran dengan bahasa yang santun untuk membantu orang-orang yang lemah. Hal ini salah satunya adalah disebabkan perputaran uang atau capital sering kali hanya dinikmati oleh para pengusaha kaya atau korporasi-korporasi besar saja tanpa melibatkan orang-orang lemah yang mencoba untuk berusaha. Para ekonom menyebutnya dengan ‘Para Pelaku Sektor Ril’.
Lihatlah kenyataan yang ada disekeliling kita. Kita lebih senang berbelanja ke supermarket daripada ke pasar, padahal justru di pasar begitu banyak amal shaleh yang dapat dilakukan. Mulai dari bertransaksi dengan para pedagang hingga membantu orang-orang yang menawarkan jasanya sebagai kuli pengangkut barang untuk mengangkut belanjaan kita dari tempat kita membeli hingga ke kendaraan kita. Puluhan hingga ratusan orang yang berada di pasar menggantungkan hidupnya pembeli yang datang. Bukankah berbelanja di supermarket kita juga dapat membantu ratusan pekerja yang bekerja di dalamnya? Memang benar, tapi bukankah lebih berharga jika kita dapat juga meluangkan waktu untuk pergi ke pasar demi sebuah amal shaleh yang menjadi niat kita?
Sang Bapak telah menjalankan prinsip hidupnya dengan sangat baik. Memilih untuk melakukan amal shaleh dalam kesehariannya. Dan ia melakukannya dalam porsinya sebagai pedagang….Alangkah indahnya jika kita yang mampu ini dengan segala kesempurnaan bentuk tubuh melakukan bagian kita? Kita membantunya dengan beberapa ribu rupiah sebagai fee penjualan dengan niat sang Bapak akan dapat menghidupi anak-istrinya dengan layak. Dan kita akan memperoleh apa yang kita butuhkan sebagai sarana penunjang kita untuk berkomunikasi. Bukankah hal ini lebih baik daripada memberi kepada peminta-minta yang berada di pinggir jalan yang hanya menggantungkan hidupnya dengan meminta-minta walau ia memiliki bentuk tubuh yang sempurna dan usia yang masih belia?
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan jangan melihat orang yang di atas kalian karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kalian tidak meremehkan nikmat yant telah Allah dilimpahkan kepada kalian.” (HR. Bukhari & Muslim)
Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa
M. Fachri

No comments:
Post a Comment