Friday, 22 April 2011

Habis Gelap Terbitlah Terang

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah [2]:257)

Hamba itu tertegun sejenak. Dalam sebuah buku yang dibacanya, ia mendapatkan sebuah informasi yang amat sangat menyentuh. Ayat diatas adalah sebuah ayat yang menjadi favorit seorang pejuang kaum perempuan. RA Kartini. Bagaimana bisa hal itu terjadi?

Pada akhir abad ke-19 dikenal seorang ulama terkemuka di Kota Semarang. Ulama itu bernama Kiai Sholeh Darat. Beliau merupakan guru dari tokoh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan juga  guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.  Kiai Sholeh banyak menulis kitab-kitab agama pada masanya antara lain Faid Ar-Rahman yang cukup terkenal.

Suatu hari, Kartini, yang sedang mengunjungi rumah pamannya, mengikuti pengajian Kiai Sholeh yang sedang mengupas makna surah Al Fatihah. Kartini amat tertarik pada cara pengajiannya yang lebih bersifat pemaparan dan pembahasan daripada pemaksaan dogma yang terdorong oleh wujud kharismatis seorang Kiai yang selama ini terjadi. Di akhir pengajiannya, Kartini menjumpai Kiai Sholeh dan memohon kepadanya untuk dapat kiranya menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa. Kartini berkata, “Tidak ada gunanya membaca kita suci yang tidak diketahui artinya.”

Hal ini disambut oleh Kiai Sholeh dengan sukacita walaupun Kiai Sholeh sadar bahwa pekerjaan itu dapat membawa dirinya dipenjara oleh pemerintah Hindia Belanda yang pada saat itu melarang segala bentuk penerjemahan Al Quran sehingga rakyat amat buta terhadap makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Dengan segala pertimbangannya, akhirnya Kiai Sholeh memulai pekerjaan besarnya itu, menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa dengan memakai huruf Pegon atau arab gundul sehingga tidak dicurigai oleh Belanda.

Kitab tafsir terjemahan itu diberi nama kitab ‘Faid Ar Rahman’. Sebuah Tafsir pertama di tanah Jawa yang memakai bahasa Jawa dengan aksara Arab. Penulisannya memakan waktu beberapa bulan dan selesai tepat sebelum RA Kartini akan menikah dengan Bupati Rembang. Kitab Faid Ar Rahman inilah yang dijadikan oleh Kiai Sholeh sebagai hadiah perkawinan Kartini dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang pada masa itu. Kartini menulis surat kepada Kiai Sholeh sebagai ucapan terima kasihnya dan menyampaikan, “Selama ini Surah Al Fatihah gelap artinya bagi saya. Saya tidak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini, dia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Sejak saat itu, Kitab Faid Ar Rahman selalu menjadi pegangan Kartini dalam menjalani hari-harinya sebagai seorang istri pejabat Rembang dan juga seorang guru bagi murid-muridnya. Ia tekun menggali nilai-nilai yang ada pada kitab terjemahan tersebut dan mengajarkannya kepada siapa saja. Satu ayat yang menjadi favoritnya adalah QS Al Baqarah ayat 257 diatas, ‘Allah mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan menuju cahaya’. Oleh sastrawan Sanusi Pane, buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda,Door Duisternis Tot Licht diterjemahkan menjadi Habis gelap Terbitlah Terang yang merupakan sebuah ayat favorit Kartini.

Dalam perjalanan sejarah, kita telah sama-sama mengetahui bahwa Kartini berpulang kehadirat Rabb-nya Yang Maha Agung ketika melahirkan seorang Putera. Puncak jihad seorang wanita adalah ketika ia melahirkan anaknya. Ia berjuang dalam keadaan antara hidup dan mati. Dan RA Kartini telah menemui Rabb-Nya dalam keadaan yang amat indah…

“…Sesungguhnya kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa (QS Hud [11]:49)


Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri

Sebuah Tempat Kembali

Untuk seorang kakak yang dicintai...

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) yaitu kitab (Al Quran) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sungguh Allah benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”(QS Fatir [35]:31-32)

Seorang kakak baru saja berpulang kehadirat Allah Azza wa Jalla setelah mendapat ujian penyakit yang cukup lama. Di masa-masa akhir hidupnya, ia harus menetap di sebuah rumah sakit dalam kondisi naik dan turun bagai silih bergantinya berbagai ujian yang dihadapinya selama ini. Akhirnya, setelah lebih 40 hari ia berjuang, Allah Azza Wa Jalla mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk menjemputnya di suatu siang. Ia sempat berwasiat kepada hamba itu di hari-hari awalnya berada di rumah sakit. Ia ingin dimakamkan sesuai dengan sunnah Nabi. Ia ingin disegerakan dan tidak ingin jenazahnya harus bermalam yang menyebabkan ia terlambat untuk bertemu Rabb-nya Yang Maha Agung. Begitu salah satu dari pesannya.

Walaupun ia berpulang jauh setelah waktu Dhuhur terlewati, kami berusaha untuk memenuhi wasiatnya. Dalam sorotan lampu dua kendaraan pengantar, kami menurunkan jenazahnya di sebuah liang yang bersebelahan dengan kedua orangtuanya dan suaminya yang lebih dulu berpulang daripadanya.

Tidak ada doa bersama setelah nisan kayu bertuliskan namanya disematkan di atas kepala tempatnya tebujur. Hal ini sesuai dengan permintaannya. Kami hanya berdoa sendiri-sendiri, memohon agar Allah Azza wa Jalla memberi kekuatan kepadanya untuk menjawab pertanyaan para malakait-Nya dan memohon agar Allah menaunginya disetiap saat sampai hari kiamat kelak. Begitulah tuntunan Rasulullah Saw dalam mengantarkan jenazah seorang muslim.

Satu persatu pengantar meninggalkan pemakaman itu. Sorotan lampu kedua kendaraan itu berpendar dan meredup. Sepi yang tinggal tanpa kesan apapun. Hamba itu masih duduk dan teringat akan sebuah hadish qudsi yang disampaikan oleh Rasulullah Saw melalui Anas bin Malik ra.

Rasulullah Saw bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya diantara hamba-hamba-Ku ada yang tidak baik keimanannya kecuali dengan kemiskinan dan jika dimudahkan rezeki kepadanya niscaya hal itu akan merusaknya. Diantara hamba-hamba-Ku ada yang tidak baik keimanannya kecuali dengan kekayaan, dan kalau Aku jadikan ia miskin niscaya keadaan itu akan merusaknya. Diantara hamba-hamba-Ku ada orang yang tidak baik keimanannya kecuali dengan kesehatan dan jika aku buat ia sakit niscaya keadaan itu akan merusaknya. Dan diantara hamba-hamba-Ku ada orang yang tidak baik keimanannya kecuali dengan sakit dan jika Aku sehatkan niscaya keadaan itu akan merusaknya. Diantara hamba-hamba-Ku ada yang ingin untuk melakukan segala kebaikan tapi aku tahan ia darinya agar rasa bangga  (ujub) tidak menyusup dalam dirinya. Sesungguhnya Aku mengurusi seluruh urusan hamba-hamba-Ku berdasarkan pengetahuan-Ku tentang apa yang ada dihati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.” (HR Ath-Thabrani)

Maha Kuasa Allah yang selalu mengurusi segala keperluan para hamba-Nya yang beriman. Sungguh manusia tidak dapat menilai seseorang dari apa yang telah ia dapatkan di dunia ini. Keberhasilan dan kesuksesannya yang terlihat oleh mata bisa jadi bukanlah sebuah kebaikan baginya. Kemuliaan seseorang bukanlah terletak dari seberapa banyak harta yang ia kumpulkan di dunia ini dan seberapa besar kekuasaan yang ia genggam tapi lebih kepada ketaqwaan yang bersemai di hati. Ketaqwaan yang akan selalu menerangi kehidupannya sampai akhirnya ia menemui Rabb-nya Yang Maha Agung.

Seorang ulama abad petengahan Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya yang berjudul Zadul Ma’ad. Sebuah buku yang menjadi sumber referensi yang tidak pernah habis-habisnya bagi siapa saja yang ingin meraih kebahagian dalam naungan agama Allah Azza wa Jalla. Pada mukaddimah bukunya tersebut, ia menulis sebuah pemikiran yang amat gamblang:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan semua yang baik-baik dengan segala sisinya di surga dan ia telah menetapkan semua yang buruk dengan segala sisinya di neraka. Surga adalah tempat tinggal yang diperuntukkan bagi orang yang baik-baik dan terlarang bagi orang yang jahat. Neraka diperuntukkan bagi orang yang jahat dan buruk dalam perangai dan tidak dapat dimasuki kecuali oleh orang yang jahat. Sedangkan dunia adalah tempat dimana kebaikan dan keburukan itu bercampur. Sebab itu terjadilah di dalamnya ujian atau cobaan agar Allah dapat melihat bagaimana seorang hamba bereaksi atas apa yang menimpanya.

Apabila tiba hari berbangkit kelak, Allah Azza wa Jalla akan memisahkan kedua golongan ini. Dunia sudah binasa. Yang ada hanya dua tempat kembali: Surga dan Neraka. Orang yang beruntung lagi baik, tak pantas baginya kecuali yang baik, ia tidak datang kecuali kepada yang baik, tidak lahir darinya kecuali yang baik dan tidak menemani dirinya kecuali yang baik pula.

Berbeda dengan orang yang rugi lagi jahat, tidak pantas baginya kecuali yang jelek, ia tidak datang kecuali pada yang jelek, dan tidak lahir darinya kecuali yang jelek pula. Orang yang jahat itu terpancar dari hatinya kejelekan melalui lidah dan anggota-anggota tubuhnya.

Tidak jarang pada diri seorang hamba, kedua sifat baik dan buruk ini terangkum menjadi satu. Maka apabila Allah menghendaki padanya suatu kebaikan, niscaya Allah akan mensucikannya dari segala sesuatu yang buruk sebelum kematiannya, sehingga ia datang kepada Allah kelak dalam keadaan suci dan bersih. Untuk mensucikan hamba ini, Allah memudahkan baginya untuk melakukan amal shaleh ketika hidup di dunia dan menuangkan mushibah yang dapat menjadi penebus dosanya. Allah memberikan kekuatan kepada hamba-Nya ini dengan hidayah agar selalu sabar menghadapi semua mushibah yang ia lalui. Salah satunya adalah dengan penyakit.

Dalam keadaan yang lain, Allah Azza wa Jalla membiarkan seorang hamba-Nya menghimpun sifat baik dan buruk ini sampai akhirnya kelak ia menemui kematiannya. Ia terhambat untuk memperoleh ‘bahan pencuci dosa’. Akibatnya kelak ia akan menemui Allah dengan membawa sesuatu yang buruk yang menyebabkan ia harus mendekam untuk sementara waktu di neraka. Sampai kapan?  Hanya Allah lah yang tahu akan hal itu. Yang pasti adalah ia harus menjalani hari-harinya di neraka sampai dirinya bersih dari berbagai keburukan yang melekat pada dirinya. Tidak mungkin suatu keburukan akan berhimpun dengan kebaikan kelak di akhirat. Neraka hanya diperuntukkan untuk keburukan sedangkan surga diperuntukkan bagi segala kebaikan.”

Maha Suci Allah yang selalu menguji hamba-hamba-Nya untuk membersihkan diri mereka agar kelak pertemuan dengan-Nya adalah sesuatu yang membahagiakan hati. Jauh dari kesuraman dan penyesalan.

Rasulullah Saw bersabda, “Ujian akan senantiasa menyertai seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi, sementara tidak ada lagi satu kesalahan pun pada dirinya.” (HR Ath Tirmidzi)

Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri