“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah [2]:257)
Hamba itu tertegun sejenak. Dalam sebuah buku yang dibacanya, ia mendapatkan sebuah informasi yang amat sangat menyentuh. Ayat diatas adalah sebuah ayat yang menjadi favorit seorang pejuang kaum perempuan. RA Kartini. Bagaimana bisa hal itu terjadi?
Pada akhir abad ke-19 dikenal seorang ulama terkemuka di Kota Semarang. Ulama itu bernama Kiai Sholeh Darat. Beliau merupakan guru dari tokoh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan juga guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Kiai Sholeh banyak menulis kitab-kitab agama pada masanya antara lain Faid Ar-Rahman yang cukup terkenal.
Suatu hari, Kartini, yang sedang mengunjungi rumah pamannya, mengikuti pengajian Kiai Sholeh yang sedang mengupas makna surah Al Fatihah. Kartini amat tertarik pada cara pengajiannya yang lebih bersifat pemaparan dan pembahasan daripada pemaksaan dogma yang terdorong oleh wujud kharismatis seorang Kiai yang selama ini terjadi. Di akhir pengajiannya, Kartini menjumpai Kiai Sholeh dan memohon kepadanya untuk dapat kiranya menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa. Kartini berkata, “Tidak ada gunanya membaca kita suci yang tidak diketahui artinya.”
Hal ini disambut oleh Kiai Sholeh dengan sukacita walaupun Kiai Sholeh sadar bahwa pekerjaan itu dapat membawa dirinya dipenjara oleh pemerintah Hindia Belanda yang pada saat itu melarang segala bentuk penerjemahan Al Quran sehingga rakyat amat buta terhadap makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Dengan segala pertimbangannya, akhirnya Kiai Sholeh memulai pekerjaan besarnya itu, menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa dengan memakai huruf Pegon atau arab gundul sehingga tidak dicurigai oleh Belanda.
Kitab tafsir terjemahan itu diberi nama kitab ‘Faid Ar Rahman’. Sebuah Tafsir pertama di tanah Jawa yang memakai bahasa Jawa dengan aksara Arab. Penulisannya memakan waktu beberapa bulan dan selesai tepat sebelum RA Kartini akan menikah dengan Bupati Rembang. Kitab Faid Ar Rahman inilah yang dijadikan oleh Kiai Sholeh sebagai hadiah perkawinan Kartini dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang pada masa itu. Kartini menulis surat kepada Kiai Sholeh sebagai ucapan terima kasihnya dan menyampaikan, “Selama ini Surah Al Fatihah gelap artinya bagi saya. Saya tidak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini, dia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
Sejak saat itu, Kitab Faid Ar Rahman selalu menjadi pegangan Kartini dalam menjalani hari-harinya sebagai seorang istri pejabat Rembang dan juga seorang guru bagi murid-muridnya. Ia tekun menggali nilai-nilai yang ada pada kitab terjemahan tersebut dan mengajarkannya kepada siapa saja. Satu ayat yang menjadi favoritnya adalah QS Al Baqarah ayat 257 diatas, ‘Allah mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan menuju cahaya’. Oleh sastrawan Sanusi Pane, buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda,Door Duisternis Tot Licht diterjemahkan menjadi Habis gelap Terbitlah Terang yang merupakan sebuah ayat favorit Kartini.
Dalam perjalanan sejarah, kita telah sama-sama mengetahui bahwa Kartini berpulang kehadirat Rabb-nya Yang Maha Agung ketika melahirkan seorang Putera. Puncak jihad seorang wanita adalah ketika ia melahirkan anaknya. Ia berjuang dalam keadaan antara hidup dan mati. Dan RA Kartini telah menemui Rabb-Nya dalam keadaan yang amat indah…
“…Sesungguhnya kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa (QS Hud [11]:49)
Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa
M. Fachri

No comments:
Post a Comment