Wednesday, 27 July 2011

Sebuah Hikmah Puasa

Allah berfirman di QS Al Baqarah [2]:183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Setiap ibadah dalam islam memiliki tujuan dalam pelaksanaannya. Taqwa adalah tujuan seorang hamba dalam berpuasa. Taqwa adalah sebuah gelar atau predikat yang dapat diraih oleh seseorang yang melaksanakan ibadah puasanya dengan baik. Ibarat gelar sarjana S-2 yang hanya dapat diraih dengan segala pengorbanan dan ketekunan, puasa juga bernuansa seperti itu.

Seorang teman bertanya, “Apa tanda-tanda seseorang telah meraih ketaqwaan dari puasa yang telah ia tunaikan?”

Hamba itu menjawab: “Tanda-tandanya adalah dengan sifat-sifat keshalihan akan terpancar pada prilaku nya sehari-hari.”

Ibarat seseorang yang meraih gelar S-2 akan memancarkan sifat-sifat intelektual pada dirinya. Ia akan lebih banyak menimbang sebelum memutuskan dan selalu mengedepankan sikap rasionalitas daripada emosionalitas. Demikian juga ia akan tampil sebagai seorang yang memiliki ketrampilan sesuai dengan disiplin ilmu yang ia geluti selama masa kuliah yang akan ia pergunakan demi kemashlahatan dirinya sendiri dan orang banyak. Inilah bentuk ideal dari sebuah gelar S-2. Demikian juga dengan ketaqwaan sebagai sebuah gelar yang dapat diraih dengan berpuasa. Puasa adalah proses untuk mendapatkannya. Sifat santun dan sabar serta ingin selalu berbagi adalah beberapa sifat keshalihan yang seharusnya ada pada diri seorang hamba dengan predikat taqwa.

Allah Azza wa Jalla, menerangkan sifat-sifat keshalihan itu pada QS Al Furqan [25]:63-77. Inti dari sifat keshalihan itu adalah ia mencintai Allah, Rabb-nya dan selalu menyebarkan kedamaian dalam hidupnya di dunia ini.

“Bisakah seseorang meraih gelar taqwa tanpa ada sifat kesalihan dalam dirinya?” Tanya teman itu lagi.

Rasulullah Saw bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak ada yang didapatnya kecuali rasa lapar dan haus” (HR Ahmad)

Dari apa yang Nabi sampaikan pada hadish diatas, amatlah sangat sulit untuk mengatakan seseorang mendapat gelar ketaqwaan jika sikap dan sifatnya sebelum memasuki bulan suci ramadhan dan setelah ramadhan adalah sama. Ia tak tampak memancarkan sifat-sifat keshalihan setelah melalui Ramadhan. Hal ini juga terjadi pada ritual ibadah haji. Begitu banyak orang yang pergi berhaji tapi apakah ia akan mendapatkan gelar haji yang mabrur?  Hal ini hanya bisa dilihat sejauh mana sifat-sifat keshalihan melekat pada dirinya sepulangnya ia menunaikan ibadah haji.

                                                 ooOOOoo

Dalam kesempatan lain seorang teman bertanya, “Kenapa Allah mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan yaitu bulan ke-9 dari kalender Hijriyah dan bukan pada bulan ke-12 yang merupakan penutup tahun untuk menghapus dosa-dosa kita?”

Hamba itu menjawab, “Allah Maha Berkehendak atas apa yang ingin Dia lakukan”

Allah berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah adalah dua belas bulan…” (QS At Taubah [9]:36)

Jika kita mencoba mengerti makna angka-angka dalam bahasa arab, angka 9 adalah angka yang tertinggi. Sedangkan yang terendah adalah 1. Sedangkan angka 0 (nol) yang dalam sejarah tercatat ditemukan oleh Al Khawarizmi, seorang ilmuan muslim abad pertengahan adalah bermakna ketiadaan. Angka 9 sering disebut sebagai angka yang tertinggi dan memiliki kesempurnaan. Sedangkan angka 10 dan seterusnya adalah gabungan dari angka-angka sebelumnya. Simbol ini pula yang bisa jadi merupakan sebuah hikmah kenapa bulan Ramadhan hadir pada bulan ke-9.

Manusia dalam perjalanan hidupnya akan mencapai sebuah kondisi yang merupakan puncak dari segala aktivitas dan keberadaannya. Puncak itu bisa ditandai dengan pencapaian amal shaleh yang ia lakukan ataupun kesalahan atau kekhilafan yang tanpa sadar telah ia perbuat. Ketika ia berada di puncak (disimbolkan dengan angka 9), sudah seharusnya ia melakukan muhasabah (kontemplasi) untuk kembali ke fitrah (disimbolkan dengan angka 1). Ia membutuhkan waktu untuk kembali mengisi hari-harinya dengan ibadah baik disiang hari (dengan berpuasa) dan di malam hari (dengan shalat malam/tarrawih dan membaca Al Quran) selama sebulan penuh agar dirinya dapat kembali ke fitrah (kesucian dari segala dosa dan kesalahan).

Seorang ulama pernah menyampaikan pendapat pribadinya kenapa seorang ibu yang mangandung harus melewati masa sembilan bulan? Karena selama sembilan bulan itulah tercapai kondisi dimana manusia itu siap untuk dilahirkan ke muka bumi ini dan hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS At Tiin [95]:4, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”


Waalahu a’lam bissawab

M. Fachri 

Friday, 22 July 2011

Sebuah Amanah Allah (bag 2)



Dalam sebuah dialog diantara sang Ibu dengan anak lelakinya itu, terdapat sebuah nasehat yang berbekas begitu dalam ke jiwa sang anak:

“Ketahuilah nak, dunia ini adalah pertarungan antara kebaikan dan keburukan yang tidak akan pernah habis-habisnya. Selalulah berada di pihak yang benar agar Allah tetap menjagamu. Kebesaraan seseorang tidaklah selalu berhubungan dengan banyaknya harta dan kekuasaan. Namun kebesaraan terletak pada kebersihan hati, kesucian nurani dan kemampuan akal untuk mengubah keadaan di diri dan di luar diri untuk menjadi lebih baik.”

Sebagai penutup sang Ibu mengutip sebuah ayat Al Quran,

“…Sungguh bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh” (QS21:105)

Sang Ibu benar, dunia ini adalah tempat bercampurnya antara keadilan dan kezaliman; kebaikan dan keburukan; kesalehan dan kekufuran. Dalam QS Luqman ayat 17 (dalam tulisan bagian pertama), Luqman menasehati anak-anaknya untuk selalu mengajak orang-orang di lingkungannya untuk berbuat kebenaran dan menjauhi segala keburukan (amar ma’ruf nahi munkar). Bukankah nabi-nabi Allah beserta pengikut-pengikutnya yang setia adalah pejuang-pejuang kebenaran yang berjuang habis-habisan (baca:jihad) demi tegaknya kebenaran di muka bumi?

Kalau kita merenung lebih jauh, harta dan kekuasaan itu hanyalah sebuah kendaraan untuk mengantarkan seseorang dalam mencapai sesuatu. Bukan sebagai parameter ‘kebesaran’ seseorang. Berapa banyak dari manusia di dunia ini yang berusaha mendapatkan harta dan kekuasaan dengan cara yang jauh dari kebaikan. Saling menyikut dan mencuri adalah hal-hal yang sangat lumrah pada zaman sekarang ini. Mereka berpikir bahwa harta dan kekuasaan itu dapat meng-kekal-kan dirinya tapi pada akhirnya hanya membuat dirinya hina.

Luqman ‘besar’ adalah karena kesalihannya bukan karena hartanya dan bukan pula karena kekuasaan yang dimilikinya. Demikian juga para Nabi dan Rasul-Rasul Allah di muka bumi. Tidak ada satupun dari mereka yang ‘besar’ karena harta atau kekuasaan yang dimilikinya, tidak juga Nabi Daud as dan Sulaiman as yang dinyatakan Allah sebagai Nabi dan Rasul terkaya dengan genggaman kekuasaan lebih dari separuh bumi ini pada masanya. Mereka semua ‘besar’ adalah karena kesalehan yang ada pada diri mereka. Allah Azza wa Jalla beserta para malaikatnya bersalawat atas mereka.

Dua kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi kita tentang manusia yang ingin meraih ‘kebesaran’ karena harta dan kekuasaan di dalam Al Quran adalah kisah Qarun dan Firaun. Qarun mencoba untuk menjadi ‘besar’ karena harta yang dimilikinya. Pada akhirnya ia harus menuai kebinasaan yang pedih (baca QS28:76-82). Demikian juga kisah Fir’aun yang mencoba menjadi ‘besar’ karena kekuasaannya yang pada akhirnya mengalami kehancuran (baca QS 10:88-92).

Apakah kita tidak boleh khawatir akan masa depan anak-anak kita?

Allah berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS An Nisaa’ [4]:9)

Allah Azza wa Jalla menyadari kekhawatiran kita dan memberi solusi dengan meminta kita untuk bertaqwa dan bersikap jujur. Ketaqwaan sudah seharusnya bukan hanya dimaknai dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, tapi lebih jauh dari itu: Bagaimana nilai-nilai ketaqwaan itu akan bermuara pada kesalehan individu yang buahnya akan bermanfaat bagi siapa saja. Nilai-nilai ketaqwaan itu akan menyebar bagai angin yang membawa serbuk sari menuju putik untuk selanjutnya menghasilkan bunga yang harum semerbak dan pada akhirnya menjadi buah yang ranum dan manis. Buah yang ranum dan manis inilah yang disebut kesalehan.

Orang tua yang shaleh akan menghasilkan keturunan yang shaleh pula. Hal ini terjadi pada Nabi Ibrahim as yang bergelar khalilullah (baca: kesayangan Allah). Ia memiliki keturunan yang sebagian besarnya menjadi nabi dan Rasul. Dari Istrinya Sarah ia memperoleh Ishak dengan anak keturunannya: Ya’kub (Israil), Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya hingga Isa Ibn Maryam. Demikian juga dari istrinya Hajar, ia memperoleh Ismail dengan anak keturunannya yang bermuara hingga pada Rasulullah Saw.

Demikian pula sebaliknya orangtua yang penuh dengan kekufuran akan menghasilkan keturunan yang kufur pula. Ingatkah kita akan kisah Nabi Nuh yang berdoa kepada Rabb-nya disaat azab Allah turun kepada kaumnya?

“Nuh berkata: ‘Ya Rabb, janganlah Engkau biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir itu tinggal diatas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan melainkan anak-anak yang akan berbuat kekufuran kepada-Mu.” (QS Nuh [71]:26-27)

Anak adalah cermin diri kita sendiri. Sebuah pepatah pernah mengisi ruang di benak kita, “Buruk rupa cermin dibelah”.  Ketika kita melihat pada diri anak-anak kita ada sifat atau tabiat yang buruk, kita malu untuk mengakuinya. Kita hanya mengakui sifat atau tabiatnya yang baik dan ideal saja untuk kemudian menimpakan yang buruk pada lingkungan atau pasangan hidup kita. Kita menyalahkan suami/istri sendiri dan menuduhnya telah memberi kontribusi yang buruk terhadap sifat atau tabiat anak-anak kita. Alangkah naïf nya diri kita.


ooOOOoo

Seorang ulama pernah berkata, “Jangan jadikan cermin kesuksesanmu dari apa yang kau dapat tapi bercerminlah pada anakmu. Jika masih ada keburukan di diri anakmu maka engkau belumlah seorang yang dikatakan sukses.” 

Mulailah untuk mengajar anak-anak kita dengan nilai-nilai ketaqwaan sedikit demi sedikit. QS Luqman ayat 12 – 19 adalah pedoman yang berlaku umum bagi kita semua. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya harus dipahami dengan benar dan sabar dalam mengajarkannya adalah hal yang terpenting agar kelak anak-anak kita selamat dari segala kekufuran.

Sesuatu yang harus kita pahami dari QS An Nisa ayat 9 diatas adalah ketaqwaan yang kita miliki tidak hanya melahirkan kesalehan individu saja tapi juga pada rezeki yang akan diperoleh oleh anak-anak kita. Allah akan menjamin kehidupan mereka jauh setelah kita tidak lagi berada di dunia yang fana ini.

Ingatkah kita akan kisah nabi Allah Musa as dan seorang hamba-Nya yang memiliki kelebihan? Sebagian ulama menafsirkannya sebagai nabi Khidir walaupun keabsahan riwayatnya masih diperdebatkan.

“Ketika keduanya sampai di sebuah perkampungan, mereka meminta makanan kepada penduduknya tapi penduduknya menolak untuk memberikan makanan kepada mereka. Keduanya mendapatkan suatu rumah yang dindingnya hampir roboh, maka hamba Allah itu memperbaikinya. Musa berkata kepadanya, ‘Jika engkau mau, kamu dapat mengambil upah dari pekerjaan kamu itu’. Hamba itu kemudian berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dan kamu, aku akan memberitahukan kepadamu tujuan dari perbuatanku yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” QS Al Kahfi [18]:77-78)

Hal ini kemudian dijelaskan oleh hamba Allah tersebut:

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di perkampungan itu, dan dibawahnya ada harta benda simpanan kedua orangtuanya yang tidak mereka ketahui. Kedua orangtua mereka adalah orang-orang yang saleh, maka Allah menghendaki agar kelak mereka sampai kepada masa dewasa dan menemukan harta simpanan itu sebagai rahmat Tuhanmu. Dan bukanlah aku yang melakukan hal itu menurut kemauan diriku sendiri. Demikianlah tujuan-tujuan dari perbuatanku yang kamu tidak dapat sabar karenanya.” (QS Al Kahfi [18]:82)

"...Kedua orang tua mereka adalah orang-orang yang saleh..."  


Pantaskah kita mengkhawatirkannya?  Sungguh sebuah hikmah kehidupan yang tak ternilai harganya.

“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al Quran ini untuk menjadi pelajaran, maka adakah yang mengambil pelajaran?” (QS Al Qamar [54]:22)

Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri

Wednesday, 20 July 2011

Sebuah Amanah Allah (bag 1)

(Bagian pertama dari dua tulisan)


“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (Luqman [31]:17)



Sebuah dialog antara sepasang suami dan istri itu terjadi dalam suasana yang jauh dari kenyamanan beberapa tahun yang lalu:

“Ada sesuatu yang salah dengan anak itu!”

“Maksud Bapak?” Tanya sang Ibu.

“Ia tumbuh menjadi anak yang lemah…Puisi…Prosa dan segala macam yang berbau sastra itu telah menjadikannya….” Sang Ayah diam sebentar untuk kemudian melanjutkan kalimatnya

“Seperti banci…”

Sang Ibu membantahnya dan berkata, “Apakah Bapak menuduh Amir Hamzah seorang pujangga yang sekampung dengan Bapak seperti banci? Itu sebuah pernyataan yang sangat aneh.”

Amir Hamzah berasal dari kota Tanjung Pura di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Kota dimana sang Ayah lahir dan menghabiskan masa kecilnya disana sebelum hijrah ke Medan untuk melanjutkan SMA dan meneruskan kuliah di sebuah universitas negeri ternama di Yogyakarta.

“Bukan itu maksudku. Ia tumbuh menjadi seorang yang tertutup dan tidak bergaul sebagaimana mestinya anak laki-laki lain seusianya. Bagaimana ia dapat diterima dimasyarakat tanpa pergaulan?” Jelas sang Ayah.

“Aku bersyukur dia tumbuh sehat dan cerdas. Itu sudah cukup bagiku” Jawab sang Ibu.

“Itu benar, tapi dia selalu berada di dalam dunianya sendiri….Buku dan Mimpi-mimpi yang kau ciptakan untuknya….Bagaimana ia akan menghadapi dunia nyata?”

Sang Ibu adalah seorang sarjana Sastra Melayu dari Universitas Sumatera Utara. Seorang yang mengagumi karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, disamping Amir Hamzah, Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana.

Disaat senggang sesudah sholat Ashar, Sang Ibu selalu duduk di beranda belakang rumah mereka sembari membaca buku ataupun majalah dengan diiringi kudapan sore. Tak jarang anak lelakinya itu menemaninya. Seringkali sang Ibu memintanya untuk membaca salah satu puisi favorit sang anak dari buku-buku yang telah menjadi koleksinya. Terkadang pula puisi hasil gubahannya sendiri. Salah satu yang selalu ia bacakan di depan sang Ibu adalah puisi karya Sutardji Calzoum Bachri.

“Aku tidak menciptakan itu semua…Aku hanya menjadi seseorang yang selalu mendukungnya. Apapun jalan yang ia tempuh. Aku mendorongnya untuk bermain di luar rumah…tapi saat ini ia memilih untuk tidak..” Bela sang Ibu.

“Ketika aku kecil, aku tumbuh bersama anak-anak seusiaku. Kami melakukan apa saja diluar rumah dan sangat bahagia. Hal itu menolongku untuk dapat bergaul di masyarakat dengan baik.” Debat sang Ayah.

“Anak-anak bukanlah buku mewarnai…yang dapat kita isi dengan warna-warna yang kita sukai” Jawab sang Ibu.

“Bersyukurlah kepada Allah kita telah memiliki seorang anak laki-laki yang cerdas dan sehat. Bicaralah dengannya dari hati-ke hati. Jangan terlalu keras kepadanya. Biarkan ia menemui jalannya sendiri” Tambah sang Ibu.

“Jalan menuju mana?” kata sang Ayah. “Seorang anak laki-laki yang tidak bergaul tidak akan pernah bisa diterima di masyarakat dan ia tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”

“Itu hanya ketakutan di diri Bapak. Allah Maha Tahu akan apa yang kita lakukan sebagai orangtuanya dan….” Belum selesai kalimat sang Ibu mengalir, Sang Bapak menjawabnya dengan kalimatnya sendiri.

“Allah Maha Tahu bahwa aku tidak dapat memahami anak itu….Aku hanya ingin dia tumbuh menjadi seorang yang kuat dan tangguh…Dan itu adalah sebuah keharusan!”

Sang Ayah meninggalkan tempat mereka berdialog. Dan sejak itu tidak pernah ada lagi pembicaraan tentang anak lelaki mereka itu. Sang Ayah berusaha untuk membentuknya sesuai dengan keinginannya dan tanpa kompromi sedangkan sang Ibu selalu mendidiknya dengan penuh kelembutan dan berusaha memfasilitasi potensi yang ada pada diri anak laki-lakinya itu.

ooOOOoo

Terkadang kita berpikir, sampai dimanakah peran orangtua dalam menentukan warna-warna kehidupan anak-anaknya dimasa depan? Haruskah orangtua bersikap otoriter kepada setiap anaknya dan mendidik mereka dengan keras? Atau membiarkan mereka sendiri yang menentukan masa depannya tanpa harus mempengaruhi pemikiran mereka sedikitpun? Mungkinkah dialog diatas terjadi pada kita sebagai orangtua?

Berselisih paham tentang cara mendidik anak telah sering kita dengar dalam sebuah rumah tangga. Pada akhirnya perselisihan ini menjadi bahan bagi kita untuk saling tarik menarik kepentingan antara sang ayah dan sang ibu yang justru akan membuat anak-anak mereka bertambah bingung dan kehilangan orientasi.

Maha Suci Allah yang telah menurunkan kalimat-kalimat nya ke muka bumi dengan sebuah surah yang bernama Luqman. Sebuah surah yang berisikan tuntunan bagi kita sebagai orangtua untuk mendidik anak-anak kita dan menjadi bekal dalam membentuk kepribadian dan keimanan yang kokoh.

Luqman bukanlah seorang Nabi dan bukan pula seorang Rasul. Ia hanya seorang hamba Allah yang hidup diantara masa Nabi Isa Ibn Maryam as dan masa Rasulullah saw. Rasulullah pernah menceritakan kepada sahabatnya ibnu Umar ra mengenai Luqman, “Sesungguhnya Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi dia adalah seorang hamba Allah yang banyak menampung kebajikan, banyak merenung dan keyakinannya lurus. Dia mencintai Allah, maka Allah mencintainya, menganugerahkan kepadanya hikmah.” (Musnad Al Firdausi)

Allah Azza wa Jalla mengabadikan kisah Luqman untuk diteladani dalam hal mendidik anak-anaknya. Sering kali kita berkesimpulan setelah membaca kisah-kisah di Al Quran bahwa kisah yang ada hanya berlaku untuk Nabi dan Rasul Allah. Hal yang sulit terjadi pada kita sebagai manusia biasa. Dari puluhan Rasul yang diutus-Nya, dari Ribuan Nabi yang dipilih-Nya, tidak satupun kisah mereka dalam  hal mendidik anak yang Allah sampaikan di Al Quran dengan rinci.  Allah telah memilih Luqman. Seorang yang awam seperti kita semua. Allah Azza wa Jalla telah memberi hikmah pengajaran kepada Luqman dalam mendidik anak-anaknya karena hamba-Nya itu mencintai-Nya. Sungguh suatu penghormatan yang luar biasa.

(Bersambung…)


Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri