Wednesday, 20 July 2011

Sebuah Amanah Allah (bag 1)

(Bagian pertama dari dua tulisan)


“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (Luqman [31]:17)



Sebuah dialog antara sepasang suami dan istri itu terjadi dalam suasana yang jauh dari kenyamanan beberapa tahun yang lalu:

“Ada sesuatu yang salah dengan anak itu!”

“Maksud Bapak?” Tanya sang Ibu.

“Ia tumbuh menjadi anak yang lemah…Puisi…Prosa dan segala macam yang berbau sastra itu telah menjadikannya….” Sang Ayah diam sebentar untuk kemudian melanjutkan kalimatnya

“Seperti banci…”

Sang Ibu membantahnya dan berkata, “Apakah Bapak menuduh Amir Hamzah seorang pujangga yang sekampung dengan Bapak seperti banci? Itu sebuah pernyataan yang sangat aneh.”

Amir Hamzah berasal dari kota Tanjung Pura di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Kota dimana sang Ayah lahir dan menghabiskan masa kecilnya disana sebelum hijrah ke Medan untuk melanjutkan SMA dan meneruskan kuliah di sebuah universitas negeri ternama di Yogyakarta.

“Bukan itu maksudku. Ia tumbuh menjadi seorang yang tertutup dan tidak bergaul sebagaimana mestinya anak laki-laki lain seusianya. Bagaimana ia dapat diterima dimasyarakat tanpa pergaulan?” Jelas sang Ayah.

“Aku bersyukur dia tumbuh sehat dan cerdas. Itu sudah cukup bagiku” Jawab sang Ibu.

“Itu benar, tapi dia selalu berada di dalam dunianya sendiri….Buku dan Mimpi-mimpi yang kau ciptakan untuknya….Bagaimana ia akan menghadapi dunia nyata?”

Sang Ibu adalah seorang sarjana Sastra Melayu dari Universitas Sumatera Utara. Seorang yang mengagumi karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, disamping Amir Hamzah, Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana.

Disaat senggang sesudah sholat Ashar, Sang Ibu selalu duduk di beranda belakang rumah mereka sembari membaca buku ataupun majalah dengan diiringi kudapan sore. Tak jarang anak lelakinya itu menemaninya. Seringkali sang Ibu memintanya untuk membaca salah satu puisi favorit sang anak dari buku-buku yang telah menjadi koleksinya. Terkadang pula puisi hasil gubahannya sendiri. Salah satu yang selalu ia bacakan di depan sang Ibu adalah puisi karya Sutardji Calzoum Bachri.

“Aku tidak menciptakan itu semua…Aku hanya menjadi seseorang yang selalu mendukungnya. Apapun jalan yang ia tempuh. Aku mendorongnya untuk bermain di luar rumah…tapi saat ini ia memilih untuk tidak..” Bela sang Ibu.

“Ketika aku kecil, aku tumbuh bersama anak-anak seusiaku. Kami melakukan apa saja diluar rumah dan sangat bahagia. Hal itu menolongku untuk dapat bergaul di masyarakat dengan baik.” Debat sang Ayah.

“Anak-anak bukanlah buku mewarnai…yang dapat kita isi dengan warna-warna yang kita sukai” Jawab sang Ibu.

“Bersyukurlah kepada Allah kita telah memiliki seorang anak laki-laki yang cerdas dan sehat. Bicaralah dengannya dari hati-ke hati. Jangan terlalu keras kepadanya. Biarkan ia menemui jalannya sendiri” Tambah sang Ibu.

“Jalan menuju mana?” kata sang Ayah. “Seorang anak laki-laki yang tidak bergaul tidak akan pernah bisa diterima di masyarakat dan ia tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”

“Itu hanya ketakutan di diri Bapak. Allah Maha Tahu akan apa yang kita lakukan sebagai orangtuanya dan….” Belum selesai kalimat sang Ibu mengalir, Sang Bapak menjawabnya dengan kalimatnya sendiri.

“Allah Maha Tahu bahwa aku tidak dapat memahami anak itu….Aku hanya ingin dia tumbuh menjadi seorang yang kuat dan tangguh…Dan itu adalah sebuah keharusan!”

Sang Ayah meninggalkan tempat mereka berdialog. Dan sejak itu tidak pernah ada lagi pembicaraan tentang anak lelaki mereka itu. Sang Ayah berusaha untuk membentuknya sesuai dengan keinginannya dan tanpa kompromi sedangkan sang Ibu selalu mendidiknya dengan penuh kelembutan dan berusaha memfasilitasi potensi yang ada pada diri anak laki-lakinya itu.

ooOOOoo

Terkadang kita berpikir, sampai dimanakah peran orangtua dalam menentukan warna-warna kehidupan anak-anaknya dimasa depan? Haruskah orangtua bersikap otoriter kepada setiap anaknya dan mendidik mereka dengan keras? Atau membiarkan mereka sendiri yang menentukan masa depannya tanpa harus mempengaruhi pemikiran mereka sedikitpun? Mungkinkah dialog diatas terjadi pada kita sebagai orangtua?

Berselisih paham tentang cara mendidik anak telah sering kita dengar dalam sebuah rumah tangga. Pada akhirnya perselisihan ini menjadi bahan bagi kita untuk saling tarik menarik kepentingan antara sang ayah dan sang ibu yang justru akan membuat anak-anak mereka bertambah bingung dan kehilangan orientasi.

Maha Suci Allah yang telah menurunkan kalimat-kalimat nya ke muka bumi dengan sebuah surah yang bernama Luqman. Sebuah surah yang berisikan tuntunan bagi kita sebagai orangtua untuk mendidik anak-anak kita dan menjadi bekal dalam membentuk kepribadian dan keimanan yang kokoh.

Luqman bukanlah seorang Nabi dan bukan pula seorang Rasul. Ia hanya seorang hamba Allah yang hidup diantara masa Nabi Isa Ibn Maryam as dan masa Rasulullah saw. Rasulullah pernah menceritakan kepada sahabatnya ibnu Umar ra mengenai Luqman, “Sesungguhnya Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi dia adalah seorang hamba Allah yang banyak menampung kebajikan, banyak merenung dan keyakinannya lurus. Dia mencintai Allah, maka Allah mencintainya, menganugerahkan kepadanya hikmah.” (Musnad Al Firdausi)

Allah Azza wa Jalla mengabadikan kisah Luqman untuk diteladani dalam hal mendidik anak-anaknya. Sering kali kita berkesimpulan setelah membaca kisah-kisah di Al Quran bahwa kisah yang ada hanya berlaku untuk Nabi dan Rasul Allah. Hal yang sulit terjadi pada kita sebagai manusia biasa. Dari puluhan Rasul yang diutus-Nya, dari Ribuan Nabi yang dipilih-Nya, tidak satupun kisah mereka dalam  hal mendidik anak yang Allah sampaikan di Al Quran dengan rinci.  Allah telah memilih Luqman. Seorang yang awam seperti kita semua. Allah Azza wa Jalla telah memberi hikmah pengajaran kepada Luqman dalam mendidik anak-anaknya karena hamba-Nya itu mencintai-Nya. Sungguh suatu penghormatan yang luar biasa.

(Bersambung…)


Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri


  

No comments:

Post a Comment