Thursday, 11 August 2011

Amalan Orang yang Berpuasa


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (untuk menghibur mereka) dan berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh (kelak) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindung mu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta, sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS Fushshilat [41]: 30-32)

Orang-orang yang berpuasa adalah orang yang banyak dzikir (mengingat Allah) dengan bertasbih, bertahlil, bertakbir dan beristighfar. Amatlah merugi orang-orang yang berpuasa tapi lisannya dan hatinya lalai dari berdzikir mengingat Allah. Bila siang terasa panjang, ia memendekkannya dengan berdzikir, bila didera oleh lapar dan haus yang menghujam, ia menghilangkannya dengan dzikir kepada Allah.

Dalam sebuah sabdanya Rasulullah saw berkata, “Hendaklah lidahmu selalu basah karena mengingat Allah.”  (HR Muslim).

Berapa banyak dari kita selalu melihat masa depan dengan kegelisahan dan apa yang telah berlalu dengan kesedihan. Dalam ayat diatas, Allah ‘Azza wa Jalla menghibur hamba-hamba-Nya yang selalu berdzikir dan menyerahkan diri secara tulus (istiqamah) dengan menurunkan malaikat-malaikatnya kepada mereka untuk membisikkan dalam relung-relung hati mereka yang paling dalam sebuah berita gembira: Mereka akan terhindar dari rasa takut (gelisah) terhadap apa yang ada dihadapan dan rasa sedih terhadap apa yang telah luput serta mereka akan mendapat apa yang mereka harapkan untuk memperolehnya.

                                                          ooOOOoo

“Syaitan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kikir (kejahatan); sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui” (QS Al Baqarah [2]:268)

Disisi yang lain, kontras dengan para malaikat-Nya yang selalu menghibur, syaitan selalu berusaha untuk menakuti-nakuti dengan kegelisahan, kekurangan dan kesempitan. Hal yang menyebabkan manusia selalu menghitung segala langkah dan tindakan yang diambilnya. Ia selalu memikirkan untung-rugi walaupun tindakannya itu demi untuk beribadah kepada Allah.

Dalam pikiran kita yang serba terbatas ini, kita cenderung melihat bahwa pahala (balasan) yang kita peroleh di dunia ini sebagai sesuatu yang bersifat materi. Kita terpaku pada pandangan: "Siapa yang memperoleh lebih banyak adalah yang paling beruntung." 

Allah Azza wa Jalla menjelaskan di dalam ayat dari surah al Baqarah diatas bahwa pemberian-Nya itu adalah ‘Fadhillah’ yang selalu kita artikan dengan karunia Allah. Karunia Allah dapat dipahami sebagai segala kebaikan (pahala) yang diterima oleh seorang hamba Allah baik di dunia ini dan kelak di akhirat.

Karunia Allah di dunia ini dapat berupa bermacam-macam kebaikan. Rezeki dapat merupakan sesuatu yang haram karena cara memperolehnya adalah haram. Tanda-tanda rezeki yang merupakan karunia-Nya adalah: Sesuatu yang halal. Jika sedikit akan mencukupi. Jika dalam jumlah yang banyak akan menentramkan hati. Demikian juga dengan ilmu. Berapa banyak manusia yang memiliki ilmu di dunia ini tapi ilmunya selalu dipergunakan untuk berbuat curang dan alat penipu antar sesama. Tidaklah demikian dengan ilmu yang merupakan karunia Allah. Ilmu itu akan selalu bermanfaat dan memberi kemaslahatan bagi siapa saja. Demikian juga halnya dengan karunia Allah berupa pasangan hidup dan anak-anak yang merupakan penyejuk hati sehingga ada kecenderungan untuk selalu senang melihatnya dan tentram di dekatnya serta anak-anak yang selalu menjadi penguat jiwa.

Disisi yang lain, surga dan segala kenikmatannya kelak juga merupakan bagian dari karunia Allah Azza wa Jalla. Walaupun saat ini masih kasat mata, tapi mata hati tak akan pernah mengingkarinya karena Al Quran banyak bercerita akan kisahnya.

Hidup ini akan terasa indah jika karunia Allah itu selalu menaungi kehidupan kita. Ujian hidup yang datang silih berganti tidak akan mampu  membuat kita kecewa ataupun berputus asa. Semua akan terasa ringan untuk dijalani karena kita yakin Allah Azza wa Jalla akan selalu bersama hamba-hamba-Nya.

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia akan merugi), karena disisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS An Nisaa [4]:134)

Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri

No comments:

Post a Comment