“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim [14]:34)
Seorang teman bertanya, “Bagaimana caranya untuk ikhlas? Terkadang himpitan hidup dan kesulitan yang dirasa membuat kita selalu ‘iri’ terhadap apa yang diperoleh oleh orang lain. Terkadang kita merasa telah berusaha sekuat tenaga dan hanya mendapat seadanya sedangkan orang lain tersebut tidak berusaha dengan sungguh-sungguh pun memperoleh hasil yang lebih dari kita!”
Hamba itu meminta teman tersebut untuk bercermin pada surah Al Ikhlas. Suatu surah yang dinamakan demikian walau tidak ada satupun kata ‘ikhlas’ di dalamnya. Berbeda dengan surah-surah Al Quran lain yang dinamakan sesuai dengan kata yang ada dalam surah tersebut.
Ikhlas berasal dari kata 'Khalish' yang berarti murni (suci) setelah sebelumnya keruh (kotor). Ikhlas lebih ditafsirkan sebagai keberhasilan usaha untuk memurnikan atau menghilangkan kekeruhan setelah sebelumnya dalam keadaaan yang demikian.
Kehidupan ini dapat diibaratkan demikian. Banyak hal yang dapat membuat hati kita keruh. Ketika kita melihat seseorang lebih berhasil meraih sesuatu, hati kita mempertanyakannya. Demikian juga dalam hal harta dan kekuasaan. Kenapa orang lain dapat lebih berkuasa daripada kita? Usaha yang kita buat sama tapi selalu hasilnya berbeda. Kenapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang dapat menjadikan hati kita terus-menerus menjadi keruh
Di dunia ini kita sangat percaya hukum sebab akibat, tapi terkadang kenyataannya amat berbeda. Seseorang yang usahanya keras belum tentu memperoleh hasil yang lebih baik dari orang yang usahanya sedang-sedang saja. Seorang pekerja keras lebih sering merasa gagal karena hasil yang ia dapatkan tidak sebanding dengan apa yang diharapkannya.
Dalam ayat pertama surah Al Ikhlas, Allah Azza wa Jalla memakai kata-kata ‘Ahad’ yang berarti satu (tunggal). Kenapa Allah tidak memakai kata ‘Wahid’ yang dari segi akar kata berarti sama?
Jika kita memahami lebih dalam ternyata ada sebuah hikmah yang terkandung di dalamnya. Kata ‘Wahid’ selalu diikuti oleh rentetan bilangan yaitu dua, tiga dan seterusnya. Sedangkan kata ‘Ahad’ tidak dapat diikuti oleh penambahan apapun sesudahnya. Ia hanya tunggal, tidak beroleh penambahan dalam hal apapun.
“Katakan! Dia adalah Ahad (Yang Maha Esa). Allah tumpuan harapan” (QS Al Ikhlas [112]:1-2)
Dalam menjalani kehidupan ini, kita selalu meletakkan harapan keberhasilan itu pada parameter materi. Jika kita berhasil meraih sesuatu maka kita memasang target untuk memperoleh yang lebih tinggi atau lebih baik lagi. Misalnya ketika berharap memperoleh satu bagian hari ini dan hal ini berhasil kita dapatkan, maka besok kita akan berharap mendapat dua bagian. Jika hal ini juga berhasil kita peroleh, maka di hari sesudahnya kita akan memasang target yang lebih tinggi lagi, empat bagian misalnya. Harapan yang bersifat keduniaan seperti inilah yang diibaratkan dengan ‘Wahid’. Selalu ada rentetan bilangan (baca: harapan yang lebih besar) yang mengikutinya. Berbeda jika kita menggantungkan harapan kita pada Allah Azza wa Jalla semata yang simbolkan dengan kata ‘Ahad’ maka tak ada target harapan sesudahnya. Kita amat yakin, apapun usaha kita pasti Allah balas dengan kebaikan. Jika hal itu belum sesuai harapan, tak mengapa, karena bisa jadi bagian di dunia ini yang Allah beri sedikit sedangkan bagian di akhirat (yang menjadi tabungan amal) jelas-jelas lebih banyak dan pasti akan kita nikmati kelak di akhirat.
"...Dan barangsiapa yang bertawaqqal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhannya)…” (QS Ath Thalaaq [65]:3)
Allah menjanjikan kecukupan bagi siapa saja yang menggantungkan harapan kepada-Nya. Manusia selalu dituntut untuk melakukan usaha dalam setiap nadi kehidupannya. Manusia akan dinilai dari usahanya yang berwujud pada ‘niat’ dan ‘proses’ yang dijalani. Sedangkan ‘hasil’ yang diperolehnya adalah wilayah kekuasaan Allah untuk menentukannya.
Dan satu yang terkadang kita lupa. Pemberian Allah Azza wa Jalla itu tidaklah sesuai dengan pemikiran kita yang sempit ini. Rezeki itu bermakna sangat luas. Dalam hal materi mungkin saja bisa terbatas, tapi cobalah lihat keadaan kita secara utuh. Kita diberi-Nya nikmat sehat dan nikmat anak-anak yang shalih dan selalu mengingatkan akan keshalihan. Demikian juga pasangan hidup (suami/istri) yang menentramkan hati. Hal lain adalah keselamatan dari tipu-menipu atau suap-menyuap dalam usaha dan perdagangan yang kita lakukan. Dan juga kecukupan untuk memenuhi kebutuhan hidup walaupun dengan gaji yang kecil. Bukankah semua ini adalah rezeki dari Allah?
Bukanlah suatu kebetulan jika Allah Azza wa Jalla mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan QS Ibrahim ayat 34 diatas. Banyak dari kita yang belum mampu untuk mensyukuri nikmat yang Dia berikan.
“Tidak ada satupun yang setara dengan-Nya” (QS Al Ikhlas [112]:4)
Penutup surah Al Ikhlas, kata ‘Ahad’ kembali disebut bukanlah tanpa makna. Apapun yang kita lakukan di dunia ini akhirnya kembali kepada-Nya. Tujuan dari segala tujuan. Keberhasilan dalam hidup ini hanya dapat diperoleh jika kemantapan hati telah diraih dengan merasakan “tiada yang setara dengan-Nya”. Dia berhak menentukan apapun yang menjadi kehendak-Nya.
Dari Zaid ibn Tsabit, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan dunia ini sebagai keinginannya, maka Allah akan mencerai beraikan urusannya (sehingga ia menjadi bingung dibuatnya), Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua matanya. Dan tidak datang kepadanya dunia, kecuali yang telah dituliskan untuknya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya (sehingga mudah saja semua itu dijalaninya). Allah akan memberikan kekayaan di dalam hatinya, dan akan datang kepadanya dunia karena dunia itu rendah sekali.” (HR Muslim)
Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa
M. Fachri
Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa
M. Fachri

No comments:
Post a Comment